Kisah ini adalah kisah nyata yang sayang sekali bila aku simpan sendiri.
Dari kisah ini, aku ingin memberi gambaran untuk sobat-sobat yang membaca
blogku, bahwa hidup adalah sebuah perjuangan tanpa ada henti. Tulisan ini
adalah tulisan pertamaku dan akan menyusul tulisan2 yang lain untuk sobat-sobat
sekalian. Untuk nama tokoh aku buat nama samaran, agar yang bersangkutan lebih
berkenan.
Sebut saja namanya Pairi, lahir di kota kelahiranku juga
Blitar, Jawa Timur. Dia adalah teman main kecilku dahulu, lahir dan tumbuh
dewasa di kota kecil bersama lima teman seangkatanku di kampung Bendil.
Pairi berumur 3 tahun lebih muda dari aku, banyak pengalaman sedih, lucu, gembira, dan haru
yang aku lalui bersama sahabatku itu. Mulai saja kisahku ini, Pairi adalah anak
dari tukang becak sederhana di kampungku.Anaknya lucu dan sangat periang, yang
paling aku kagumi dari dia adalah semangat mau membantu dan ringan tangan
darinya. Selepas lulus SMP dia memutuskan untuk berhenti sekolah, menurut Pairi
bapaknya tidak sanggup membiayai sekolah
lebih tinggi lagi. Waktu itu aku masih duduk di kelas 3 STM di kotaku, rasanya
sedih juga tahu Pairi tidak melanjutkan sekolah. Tapi persahabatan kami tetap
berjalan baik walaupun Pairi memutuskan untuk mengayuh becak seperti rata2
profesi di kampungku.
Di sini perjalanan hidup Pairi
berjalan sesungguhnya, dari sekedar bermain dan belajar berubah menjadi kayuhan
yang menghasilkan uang. Sangat berkesan dan tentunya sangat menyesakkan melihat anak umur 15 tahunan bermandikan
keringat dan panas matahari, belum lagi bila hujan deras turun, ya bisa
dibayangin sendiri sobat. Tapi semua itu tidak menyurutkan semangat Pairi kecil
untuk terus bekerja mengayuh becak dengan kayuhan kecilnya. Yang perlu sobat
ketahui sebagian dari penghasilan mengayuh becak itu diberikan kepada Emaknya
untuk keperluan sehari-hari. Pairi tidak pernah mengeluh apapun, dia selalu
riang dalam menjalankan profesi barunya itu sungguh sungguh. Pernah suatu pagi
Pairi mengalami kecelakaan, saat mengantar seorang ibu2 berangkat ke kantor
entah tidak konsentrasi apa mengantuk becak yang dia kayuh terkena palang pintu
kereta yang menutup. Ramailah kampung kecilku dengan berita itu, Pairi kecil
tidak mau dirawat di rumah sakit dengan alasan yang sangat logis untuk orang
kecil yang hidup di Indonesia
yaitu biaya. Siapa yang mau tanggung biayanya sobat?? Dengan luka yang ada,
Pairi dibawa pulang dan diobati seadanya. Ya begitulah sekelumit cerita untuk
Pairi pagi itu.
Waktu berjalan, tak terasa 3tahun
telah berlalu, aku sendiri memutuskan mengadu nasib ke Ibukota Republik ini.
Persahabatan kami tidak luntur begitu saja, semua tetap berjalan walaupun hanya
dengan komunikasi surat
menyurat kala itu. Aku sendiri rutin pulang kampung tiap 3bulan sekali, senang
sekali selalu bisa berbagi cerita dengan Pairi. Setelah 3tahun mengayuh becak
Pairi yang sudah mulai beranjak dewasa mulai berfikir untuk mengubah nasib
hidupnya yang selama ini ia jalani. Dia ingin mempunyai keinginan untuk
mempunyai penghasilan rutin tiap bulannya. Bak gayung bersambut, tetanggaku
menawari pekerjaan sebagai petugas kebersihan kota
Blitar tepatnya sebagai penyapu jalan kota .
Aku bantu Pairi membuat surat
lamaran kerja sebagai petugas kebersihan, hasilnya Pairi diterima tanpa menunggu
waktu. Profesi Pairi yang baru pun dimulai . Tiap jam tiga pagi dia sudah harus
bangun agar tidak telat menyapu jalanan kota .
Pairi bertugas di jalan seputaran istana Gebang di kota Blitar, tempat di mana Bung karno
menghabiskan masa kecilnya. Banyak turis domestik tiap pagi sudah berkeliling
menuju istang Gebang ini, maka Pairi harus tepat waktu agar lingkungan istana
terlihat sedap dipandang.
Di sela waktu senggangnya pairi
masih mengejar rupiah dengan profesi lamanya mengayuh becak, karena tugas
menyapunya sampai jam 12 siang saja. Tugasnya sebagai penyapu jalanan bukanlah
pekerjaan tanpa resiko. Tiap sebulan sekali Pairi mempunyai tugas untuk
memangkas ranting pohon di area jalanan agar tidak menimbulkan sampah berlebih
dari daun kering pohon, juga untuk keselamatan pengguna jalan yang melintas.
Nah di situ awal dari bencana itu datang, saat Pairi naik ke pohon yang lumayan
tinggi untuk memangkas ranting2 pohon, dahan yang dia injak patah dan jatuhlah
dia. Masih untung, ya masih untuk sobat Pairi tidak jatuh ke kerasnya aspal
jalanan karena tangannya tersangkut di ranting pepohonan. Akibat kejadian itu
Pairi harus mengorbankan tangan kirinya patah. Pengobatan tradisioal khas Jawa
Timur ditempuh, tapi bukan Ketok Magic asli Blitar lo sobat. Seminggu kemudian
Pairi sudah bisa beraktifitas walaupun tangan kirinya harus digendong dan
diberi kayu pengaman. Berhenti menyapu jalanan, tentu tidak ada di kamus besar
Pairi. dengan dibantu bapaknya tugas tetap dia jalankan dengan tulus sampai dia
benar2 sembuh. Ehmmm, andaikan aparat pemerintah negeri ini mempunyai jiwa
pengorbanan seperti Pairi pasti maju negara ini, tidak menjadi sarang para
koruptor-koruptor rakus itu.
Sudah ah aku gak mau cerita tentang
kebobrokan negeri ini, tambah pusing jadinya?? Kembali ke kisah Pairi sobat,
seiring berjalannya waktu tugas Pairi tidak menyapu jalan lagi. Dedikasi dan
disiplin tinggi membuat dia dipromosikan menjadi mandor untuk teman2nya, tidak
tanggung2 Pairi membawahi 25 penyapu jalanan yang lain. Di sinilah hebatnya
Pairi, dia tidak puas sampai di situ saja. Pairi melanjutkan lagi sekolahnya
yang terputus setelah lulus SMP dulu, pagi kerja malam hari mengikuti kejar
paket setara SLTA. Pairi tidak segan apalagi malu menjalani aktivitasnya itu
padahal umur sudah tidak belasan tahun lagi. Wah salut banget mendengar berita
dari Pairi ini, terus aku beri dukungan buat Pairi untuk terus melaju jangan
sampai berhenti di tengah jalan. Dukungan dariku dan orang2 di sekitarnya
membuahkan hasil yang memuaskan, Pairi berijazah SLTA sekarang.
Promosi pekerjaan yang lainpun
Pairi dapatkan dari tenaga honorer dinas kebersihan kota Blitar mejadi calon pegawai negeri sipil
dan ditempatkan di SLTP negeri 2 Blitar sebagai pesuruh sekolah. Dari situ Pairi
mulai mendapatkan pelatihan2 sebagai syarat menjadi pegawai negeri. Akhir kisah
ini Pairi mendapat mendapat surat yang tidak
akan mungkin Pairi lupakan yaitu surat
pengangkatan sebagai pegawai negeri sipil Pemkot Blitar tanpa ada uang pelicin
dan tanpa sogokan apapun juga. Pairi ditugaskan di SLTA Negeri 1 Blitar sebagai
tenaga administrasi sekolah. Benar2
proses yang panjang, bukan semata mata
bermodal uang untuk mencapai cita cita. Tetapi modal tekad yang kuat dan
perjuangan untuk mencapai semuanya yang Pairi contohkan patut kita teladani.
Sekarang Pairi sudah membangun keluarga dan mempunyai 1 orang anak yang lucu.
Salam sobatku, terus berjuang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar